Kasus kanker usus besar kini semakin banyak ditemukan di kalangan anak muda, termasuk generasi Z yang berusia di bawah 50 tahun. Salah satu faktor yang mencuat dalam penelitian terbaru adalah peran makanan ultra processed food dalam meningkatkan risiko penyakit ini. Fenomena yang semula dianggap jarang kini jadi perhatian global karena tren pola makan modern berubah drastis dalam beberapa dekade terakhir, terutama di negara maju dan urban.
Artikel ini akan membahas secara mendalam bagaimana makanan tertentu dapat menjadi biang kerok kanker usus besar di kalangan Gen Z, apa saja makanan yang dimaksud, apa yang dikatakan para ahli, serta tips praktis untuk mengurangi risikonya agar hidup lebih sehat dan terhindar dari penyakit berat tersebut.
🧬 Meningkatnya Kasus Kanker Usus Besar pada Generasi Muda
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan kesehatan menunjukkan tren meningkatnya angka kanker kolorektal — yaitu kanker yang berkembang di usus besar atau rektum — terutama pada orang dewasa muda di bawah usia 50 tahun. Ini berbeda dari pola tradisional, di mana kanker usus besar terutama ditemui pada orang tua.
Kondisi ini membuat banyak peneliti mencari faktor risiko yang mungkin mempengaruhi kelompok usia ini. Ternyata, salah satu faktor yang paling sering dikaitkan adalah perubahan pola makan modern, khususnya konsumsi tinggi makanan ultra processed food yang banyak tersedia di pasar global saat ini.
🍔 Apa Itu Ultra Processed Food dan Mengapa Berbahaya?
Ultra processed food (UPF) adalah istilah untuk jenis makanan yang telah melalui banyak tahap pengolahan industri, menggunakan bahan tambahan, pengawet, emulsifier, pemanis buatan, pewarna, dan teknik produksi agar awet dan cepat saji. Contohnya bisa berupa roti industri, sosis, saus siap pakai, minuman manis kemasan, makanan cepat saji, atau snack olahan.
Berbeda dengan makanan utuh atau minimal diolah, UPF umumnya:
- Rendah serat dan nutrisi penting
- Tinggi kalori, gula, garam, dan lemak jenuh
- Mengandung zat aditif yang tidak biasa dikonsumsi tubuh alami
Akibatnya, konsumsi makanan tersebut secara terus-menerus dapat mengganggu fungsi usus, memicu inflamasi kronis, dan mempengaruhi mikrobioma usus — komunitas bakteri di saluran pencernaan yang penting untuk kesehatan secara keseluruhan. Perubahan ini menjadi titik awal bagi perkembangan pertumbuhan jaringan abnormal di usus, yang dalam beberapa kasus dapat berkembang menjadi kanker usus besar.
📊 Hasil Studi: Risiko Kanker Usus Besar dan Pola Makan
Sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Oncology menunjukkan bahwa individu yang mengonsumsi jumlah ultra processed food terbesar setiap hari — sekitar 10 porsi per hari — memiliki risiko hingga 45% lebih tinggi untuk mengalami pertumbuhan awal jaringan yang bisa berubah menjadi kanker dibandingkan mereka yang hanya makan sekitar tiga porsi per hari.
Meski studi ini tidak bersifat definitif, temuan ini memberikan petunjuk penting bahwa apa yang kita makan perlu diperhatikan dengan serius, terutama ketika pola konsumsi UPF menjadi kebiasaan sehari-hari.
Selain itu, analisis dari studi besar lain juga menemukan hubungan antara pola makan tinggi processed atau makanan berenergi tinggi dengan ** risiko lebih besar kanker kolorektal**, walaupun hubungan ini mungkin berbeda di setiap populasi.
🍟 Contoh Makanan Ultra Processed yang Wajib Diwaspadai
Beberapa contoh makanan yang masuk kategori ultra processed food meliputi:
- Roti putih industri yang tinggi gula dan pengawet
- Sosis, nugget, atau produk daging olahan
- Minuman ringan berperisa, jus kemasan penuh gula
- Snack kemasan seperti keripik, biskuit industri
- Saus, bumbu siap pakai atau makanan beku siap saji
- Sereal manis yang tinggi gula tambahan
Makanan-makanan ini sering menjadi favorit anak muda karena praktis, cepat saji, dan mudah ditemukan di minimarket atau gerai cepat saji. Namun demikian, kebiasaan konsumsi yang tinggi dapat menjadi salah satu pemicu risiko kesehatan serius seperti kanker kolorektal.
🧠 Bagaimana Ultra Processed Food Mempengaruhi Usus?
Para ahli menduga bahwa konsumsi UPF secara berlebihan dapat:
- Mengganggu mikrobioma usus — gangguan ini dapat merusak keseimbangan bakteri baik yang seharusnya melindungi usus dari inflamasi dan pertumbuhan jaringan abnormal.
- Merusak lapisan pelindung usus sehingga sistem pencernaan menjadi lebih rentan terhadap zat berbahaya.
- Memicu inflamasi kronis — respons inflamasi terus-menerus menjadi salah satu faktor yang memicu perkembangan kanker.
- Meningkatkan risiko obesitas — obesitas sendiri sudah terbukti sebagai faktor risiko penting dalam berbagai tipe kanker termasuk usus besar.
Semua hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara makanan dan kanker tidak hanya soal kalorinya semata, tetapi juga komposisi bahan dan efeknya terhadap kesehatan usus secara jangka panjang.
🍎 Pola Makan Sehat: Kunci Pencegahan yang Efektif
Sementara risiko konsumsi makanan ultra processed tinggi, penelitian juga menunjukkan bahwa pola makan sehat bisa membantu menurunkan risiko kanker usus besar. Faktanya, diet yang kaya serat, buah, sayuran, whole grains, dan kacang-kacangan mampu memperbaiki kesehatan usus sekaligus mempengaruhi mikrobioma secara positif.
Beberapa hal yang dianjurkan oleh pakar kesehatan untuk mengurangi risiko meliputi:
- Perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan — sumber serat dan antioksidan yang penting.
- Pilih biji-bijian utuh dan legum dari pada produk olahan.
- Batasi daging merah dan makanan olahan yang sudah terbukti berhubungan dengan risiko kanker.
- Hindari minuman manis berlebihan dan makanan tinggi gula.
- Kurangi konsumsi alkohol karena alkohol juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal serta beberapa kanker lain.
Selain itu, menjaga berat badan ideal dan aktivitas fisik rutin juga termasuk langkah penting guna menurunkan risiko kanker usus besar. Beberapa studi bahkan mengaitkan pola hidup aktif dengan penurunan risiko CRC secara keseluruhan.
🧪 Kapan Perlu Skrining Dini?
Biasanya kanker usus besar lebih sering terjadi pada orang di atas usia 50 tahun, namun tren terbaru menunjukkan peningkatan kejadian pada usia lebih muda. Karena itu, banyak ahli kesehatan menyarankan untuk memulai **skrining lebih awal — sekitar usia 45 tahun — terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga atau mengalami gejala tertentu.
Gejala awal yang perlu diwaspadai termasuk:
- Perubahan pada kebiasaan buang air besar
- Tinja berdarah atau gelap
- Sakit atau nyeri perut terus-menerus
- Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
Segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala-gejala tersebut atau jika memiliki faktor risiko yang tinggi.
📌 Kesimpulan
Konsumsi jenis makanan ultra processed secara berlebihan, seperti roti industri, makanan cepat saji, minuman kemasan manis, dan bumbu siap pakai, ternyata dapat menjadi salah satu biang kerok meningkatnya kasus kanker usus besar terutama di kalangan generasi muda seperti Gen Z.
Namun demikian, pola makan sehat yang kaya serat, buah, sayuran, dan whole grain serta gaya hidup aktif dapat membantu menurunkan risiko tersebut. Kunci utama adalah mengubah kebiasaan makan dari produk ultra processed ke makanan alami yang lebih bergizi.
🎰 Sering Rungkad?
Ayo Merapat di JAWARA88 SLOT
💸 Spin santai, cuan datang!

Disajikan oleh Kabar Nusantara x Jawara88
Kabar Nusantara 💥 | Main slot, cuan makin kuat di Jawara88 🎰
