Pasar otomotif Indonesia sedang mengalami perubahan besar di tahun 2026, di mana penjualan mobil baru terus menurun, sementara mobil bekas justru makin diminati oleh konsumen.
Yang pasti, meski pasar mobil baru melemah, industri otomotif Indonesia masih memiliki dinamika menarik yang patut dicermati lebih jauh.
1. Tren Penurunan Penjualan Mobil Baru di Indonesia
Menurut studi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), penjualan mobil baru di Indonesia mengalami penurunan tajam dari masa puncak di tahun 2013 yang mencapai sekitar 1,22 juta unit, menjadi sekitar 866 ribu unit di tahun 2024. Tren ini tercatat terus berlangsung hingga awal tahun 2026.
Faktor Penurunan Mobil Baru
Beberapa faktor utama yang menjadi penyebabnya antara lain:
- Harga mobil baru meningkat jauh lebih cepat daripada kenaikan pendapatan rumah tangga. Ketimpangan antara harga jual mobil baru dengan kemampuan finansial konsumen membuat masyarakat menjadi lebih berhati-hati sebelum membeli mobil baru.
- Nilai tukar rupiah, biaya produksi & harga komponen yang tinggi turut memberi tekanan harga akhir, yang pada akhirnya diteruskan kepada konsumen.
- Kendala kredit dan persyaratan leasing yang makin ketat juga membuat pembelian mobil baru untuk sebagian besar konsumen menjadi lebih sulit dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
2. Mobil Bekas Justru Menjadi Pilihan Utama
Sementara itu, data dari studi yang sama menunjukkan bahwa pangsa pasar mobil bekas tumbuh menjadi 67,5%, dibandingkan dengan mobil baru yang hanya berada di kisaran 32,5% pada tahun 2024. Tren ini diprediksi masih akan berlanjut selama beberapa tahun mendatang.
Mengapa Mobil Bekas Semakin Diminati?
Ada empat alasan utama yang membuat mobil bekas semakin populer:
- Harga yang lebih terjangkau
Mobil bekas pada umumnya berharga jauh lebih murah dibandingkan unit baru, bahkan seringkali dalam kondisi yang masih layak pakai dalam kehidupan sehari-hari. - Depresiasi harga yang lebih rendah
Banyak pembeli kini sadar bahwa setelah beberapa tahun, nilai jual kembali (resale value) mobil tertentu seperti Toyota Innova tetap tinggi sehingga risiko rugi karena depresiasi dapat ditekan. - Kemampuan beli yang terbatas
Ketidakseragaman peningkatan pendapatan rumah tangga membuat sebagian besar konsumen memilih opsi mobil bekas karena pembiayaan lebih ringan dibandingkan kredit mobil baru. - Pilihan yang makin banyak & terjangkau
Seiring berkembangnya platform penjualan mobil bekas, baik online maupun offline, konsumen kini lebih mudah mendapatkan unit bekas berkualitas harga kompetitif.
3. Dampak Ekonomi & Pengaruh Daya Beli
Permintaan mobil bekas yang meningkat erat kaitannya dengan melemahnya daya beli masyarakat Indonesia.
Selain itu, studi lain memperlihatkan bahwa jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia mulai mengalami penurunan, yang berarti segmen konsumen yang biasanya menjadi pembeli utama mobil baru kini berkurang.
Dengan demikian, konsumen pun mencari alternatif yang lebih murah namun tetap fungsional, dan mobil bekas menjadi solusi yang paling efektif dan realistis untuk banyak orang.
4. Tren Penjualan Mobil Baru di 2025–2026
Berdasarkan data terkini dari Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) dan sumber otomotif lainnya:
- Penjualan mobil baru di Indonesia selama sebagian besar tahun 2025 mengalami tren penurunan, baik secara bulanan maupun tahunan.
- Penurunan sekitar 10–15% dibandingkan periode sebelumnya menjadi indikasi bahwa permintaan pasar sedang mengalami perlambatan.
- Kondisi ini terutama terjadi pada segmen kendaraan berbahan bakar bensin konvensional. Namun perlu dicatat bahwa permintaan kendaraan listrik (EV) justru meningkat, meskipun secara absolut nilainya masih lebih kecil dibandingkan mobil konvensional.
5. Transisi Konsumen: Dari Baru ke Bekas
Tren transisi ini bukan hanya soal harga, tetapi juga mencerminkan perubahan pola konsumsi otomotif di Indonesia:
- Konsumen makin mencari nilai terbaik (value for money): Mobil bekas menawarkan kombinasi harga terjangkau dan kondisi yang masih memadai, sehingga konsumen merasa mendapat keuntungan yang jelas.
- Mobil bekas dianggap investasi barang yang lebih bijak: Ketika harga baru terus naik, membeli unit bekas yang belum terdepresiasi tajam dipandang sebagai keputusan ekonomi yang rasional.
- Kesadaran akan biaya total kepemilikan: Konsumen kini tidak hanya melihat harga beli, tetapi juga biaya perawatan, kredit, dan depresiasi jangka panjang.
6. Peran Dealer & Platform Digital
Kemajuan teknologi dan hadirnya berbagai platform marketplace mobil bekas juga turut memperluas pasar kendaraan bekas. Kini, konsumen bisa:
- Membandingkan harga dengan cepat
- Mengetahui riwayat kendaraan
- Melakukan inspeksi sebelum membeli
- Mendapat fasilitas kredit bekas yang kompetitif
Sebagai hasilnya, penjualan mobil bekas menjadi lebih transparan dan menarik bagi pembeli kelas menengah ke bawah.
7. Prediksi Pasar Otomotif 2026–2027
Melihat pola dan data tren terkini:
- Penjualan mobil bekas diperkirakan tetap tumbuh selama beberapa tahun ke depan karena faktor ekonomi dan preferensi harga.
- Mobil baru diprediksi akan bergerak stabil atau sedikit naik jika ekonomi Indonesia menunjukkan tanda pemulihan nyata, suku bunga turun, dan kredit otomotif kembali longgar.
- Mobil listrik bisa menjadi ceruk pertumbuhan baru, terutama jika infrastruktur dan regulasi lebih mendukung.
Kesimpulan Akhir
Secara keseluruhan, fenomena penjualan mobil baru turun terus sementara mobil bekas makin populer bukan hanya tren sesaat. Melainkan sebuah perubahan struktural yang dipicu oleh:
- Penurunan daya beli konsumen
- Harga mobil baru yang melambung jauh
- Pilihan mobil bekas yang makin luas
- Kemajuan platform jual beli digital
- Preferensi konsumen terhadap nilai dan efisiensi
Perkembangan ini perlu diperhatikan seluruh pelaku industri otomotif, mulai dari produsen, dealer, hingga konsumen itu sendiri. Pasalnya, masa depan pasar mobil Indonesia mungkin tidak lagi dominan oleh mobil baru, tetapi oleh mobil bekas yang terus berkembang pesat.

